Tuesday, August 13, 2013

SEJARAH SINGKAT PRAJA KADIPATEN PAKUALAMAN.


Perjanjian Daendels dengan Sultan H.B.II. yang diwakili oleh Pangeran Adipati Anom (H.B.III.) pada tgl, 10 Januari 1811, sangat merugikan dan menyakitkan hati H.B.II. Sehingga menimbulkan peperangan dan pertentangan antara H.B.II. dan Pangeran Pati, inilah menjadi bibit kekacauan dan malapetaka yang melanda kerajaan Yogyakarta. Tampilah Pangeran Natakusuma dan putranya Tumenggung Natadiningrat menjadi penengah dan memberikan saran-saran untuk keutuhan Kesultanan, dan beliau menganggap Daendels sangat kejam. Oleh Hindia-Belanda kedua Pangeran tsb, dijebloskan ke penjara dan diputus akan dibunuh mati. Tetapi oleh penguasa benteng Cirebon Waterloo sengaja mengulur waktu eksekusinya, hingga saat penggantian Daendels oleh Gubernur Jenderal Janssens atas perintah Kaisar Napoleon Bonaparte. (kala itu negeri Belanda dan jajahannya dikuasai oleh Perancis). Sebab itulah yang menyelamatkan kedua Pangeran tsb, dari maut. Serah-terima jabatan antara Daendels dan Janssens terjadi pada 16 Mei 1811. Peperangan antara Hindia Belanda melawan Inggris bagi H.B.II. memberi kesempatan untuk  memperkuat diri, sekalipun dengan rasa berat harus membantu balatentara ke Semarang untuk membantu Jenderal Janssens. Meskipun demikian H.B.II. masih dendam kepada Pemerintah Belanda. Kesempatan itu dipergunakan juga untuk membebaskan kedua Pangeran tsb, diatas. (Pangeran Natakusuma dan T.Natadiningrat). Pada tgl, 18 September 1811 berakhirlah Pemerintahan Belanda, Nusantara sejak saat itu dikuasai oleh Inggris, Raffles ditunjuk sebagai Letnan-Guberbur di Hindia Belanda ini langsung di bawah protektorat Gubernur Jenderal India-Inggris Lord Minto yang kemudian Lord Moira. Raffles bebas bertindak dan berkuasa. Tanggal 28 September 1811 tibalah Kapten Robinson sebagai Komisaris dari pemerintahan Inggris yang baru di Yogyakarta, dan dia berjanji bahwa segala apa yang pernah ditandai-ditangani sebagai perjanjian dengan Daendels akan tetap diberlakukan dan dipertahankan, tetapi meskipun demikian Sultan Sepuh dan Pangeran Pati mengemukakan tiga persyaratan kepada Lord Minto :
1.      Memperbaiki upeti pesisir.
2.      Menyerahkan kembali pusara para leluhur.
3.      Pemulangan kembali para pangeran yang diasingkan.
Permintaan pertama tidak bisa dikabulkan opleh Raffles, dia hanya bersedia untuk membayar uang kerugian. Sama halnya dengan janji kepada Keraton Surakarta.
Permintaan kedua juga ditolak, karena itu berarti harus diserahkan seluruh daerah pesisir utara.
Hanya permintaan ketiga yang dikabulkan. Setelah Komisaris Robinson kembali, maka kembali H.B.II. menunjukkan kekuasaanya dan berhasil mengangkat dirinya senagai Sultan, dan Pangeran Pati tetap/kembali menjadi Pangeran-Mahkota.
            Sultan Sepuh tetap ingin mempertahankan tata-cara dan istiadat lama ; Patih Danureja disingkirkan dengan dalih dia pro Belanda dan pengkhianat, maka langsung dijatuhi hukuman mati (Patih Seda Kedaton). John Crawfurd sebagai Residen mendapat kesan bahwa Sultan Sepuh sangat anti pemerintahan Eropa, begitu juga sikap Sesuhunan Surakarta. Oleh karena itu, Raffles pada Desember 1811 terpaksa dating sendiri untuk meninjau Jawa Tengah dan minta kedua raja Yogyakarta dan Surakarta harus berada di Semarang untuk menyambut tamu agung tsb. Secara formil Sri Susuhunan bersedia melaksanakan; tetapi Sri Sultan menunjukkan sikap yang patut dibanggakan, beliau mengatakan dalam suratnya kepada Raffles dengan sebutan “Saudara” dan bukan dengan predikat “Tuan Besar”.
            Pada saat itu pula Raffles mengatakan bahwa kenaikan tahta H.B.II. oleh dirinya sendiri tidak berlaku dan beliau akan datang  mengunjungi baik Surakarta maupun Yogyakarta, dengan perantaraan Pangeran Natakusuma yang sangat dia percaya itu karena dia tahu bahwa Pangeran Natakusuma bersama dengan isteri ketiga H.B.II. Ratu Kencana Wulan dan Bupati Madiun R.Rongga Prawiradirja (menantu H.B.II.) bersekongkol membuat kekacauan pemerintahan Daendels, untuk memperkuat hubungan maka Tumenggung Natadiningrat dikawinkan dengan putrid sulungnya Ratu Kencana Wulan yang kemudian bergelar Kangjeng Ratu Ayu.
Pesan Raffles yang dibawa P.Natakusuma antara lain: kemungkinan besar Sultan H.B.II. bisa tetap duduk diatas tahtanya, bila beliau mau merahabilitir kedudukan Pangeran Adipati dan meminta maaf. Ampat hari kemudian Raffles dating sendiri dengan membawa kekuatan militernya. Dari pihak Sultan beliau sudah siap siaga perlengkapan siap tempur.
Menurut cerita rakyat yang bersumber dari kraton (dari mulut ke mulut), Sultan H.B.II. bisa menerima kedatangan Raffles, akan tetapi sejak dari Pengurakan ke Sitihinggil tidak boleh naik kereta jadi harus jalan kaki menuju ke Kraton, dengan sakit hati yang amat sangat Raffles melakukan apa yang diminta oleh H.B.II. Hal ini disampaikan oleh pembantu Raffles yang bernama Stutinghe.
            Di dalam Kraton Sultan H.B.II. menempatkan sebuah “tabouret” (semacam meja kecil yang rendah) di bawah “dhamparnya” dimaksud agar beliau duduknya lebih tinggi daripada Raffles. Oleh salah satu anggota rombongan Raffles “tabouret” tersebut disepaknya. Para pembesar kraton yang melihat kejadian itu langsung mencabut keris mereka atas penghinaan tsb. Sri Sultan menasehatkan agar para pembesar kraton sabar, jangan meluapkan emosi mereka. Sultan H.B.II. cukup puas dengan pengakuan Raffles atas kedudukan dan kekuasaannya. Dalam surat perjanjian antara kedua tokoh tsb, tidak sepatah kata pun disebut tentang Pangeran Anom. H.B.II. bahkan mengadakan konsesi yang lebih penting daripada Sri Sesuhunan, namun tidak semua bagian yang diambil oleh Daendels dikembalikan kepada Sri Sultan. Pertentangan antara H.B.II. dan Pangeran Pati semakin parah. H.B.II. walaupun sangat benci terhadap Pangeran Natakusuma tetapi sangat mengakui kecerdasan dan kecerdikannya, beliau menganggap seorang negarawan dan budayawan. Sebagai perantara kejernihan Kasultanan antara Sultan dan Pangeran Pati. Karena jasa Pangeran Natakusuma terhadap Kasultanan dan Raffles, dalam perjanjian itu Grobogan tidak dikembalikan; oleh Raffles dihibahkan kepada sang Pangeran.
            Sri Sultan memperkuat penjagaan kraton dan memperkuat tentaranya sementara beliau menolak menandatangani kontrak pungutan uang tol-tol pintu gerbang. Pihak pemerintah mendengar, bahwa antara Sri Sultan dan Sri Susuhunan terjalin hubungan denmgan tujuan untuk memperbaharui persyaratan pembayaran uang upeti pesisir, merehabilitir soal tata-cara tradisional yang lama dan penyerahan kembali bagian-bagian tanah yang diambil oleh pihak kompeni, dan bila tidak berhasil, maka kedua kerajaan akan bersama-sama menggempur pihak gupermen Kompeni. Pangeran Pati sendiri tidak setuju akan hal ini, maka Pangeran Pati dicopot gelarnya dan beberapa antek Pangeran banyak yang dibunuh. Saat ini keadaan kasultanan kacau-balau.

Raffles memerintah Kol. Gillespie dengan kekuatan terdiri dari 1200 orang tentara Inggris yang terpilih, dan diperkuat oleh 800 orang tentara P.A. Prang Wadana bersama-sama menyerbu kraton Yogyakarta, tepatnya 20 Juni 1812. Setelah mendapat perlawanan yang tidak seimbang, kraton dikuasai oleh pihak Inggris. Semua harta kekayaan Sri Sultan jatuh ke kekuasaan Inggris. Pada maklumat 28 Juni 1812 Sri Sultan Sepuh dinyatakan turun tahta dan diasingkan ke Pulau Pinang. Sebelum berangkat beliau berpesan kepada Pangeran Pati, agar tidak melupakan jasa dari P.Natakusuma dan kelak kalau beliau dinobatkan menjadi H.B.III. , ajaklah untuk ikut mengemudikan Pemerintahan.
            Tanggal 28 Juni 1812 jadi hari itu Pangeran Pati dinobatkan menjadi H.B.III. dengan perjanjian kontrak dengan Inggris, ternyata kekuasaan mereka sudah begitu dipangkas(dikuras) hingga dengan rasa terpaksa mereka (Yogya dan Surakarta) harus mengakui kekuasaan bangsa Eropa sebagai penguasa seluruh Pulau Jawa. Kedua Kerajaan terpaksa  mengurangi kekuatan militernya, terbatas pada tentara penjagaan kraton saja, semua kekuatan defensif  berada di tangan penguasa Inggris.
            Selanjutnya Yogyakarta harus menyerahkan kekuasaanya atas Kedu, Pacitan, Japan, dan Grobogan, Surakarta menyerahkan sebagian Kedu lainnya, Pacitan, Blora dan Wirasaba. Seperti diketahui, Kedu merupakan milik Negaragung. Dengan disitanya bagian itu, maka sebagai bagian “apanage-stelsel” para pembesar kraton, ini merupakan pukulan berat.
            Sehari setelah penobatan Sultan H.B.III. tepatnya 29 Juni 1812. Raffles mengangkat P.Natakusuma sebagai “Pangeran Merdika” dengan pangkat “Pangeran Adipati” dengan nama Paku-Alam, ini juga merupakan imbalan atas jasa-jasa P.Natakusuma. Sri Sultan menyetujui dan menyerahkan sebidang tanah seluas 4000. cacah, hal ini sesuai dengan amanat Sultan H.B.II. (Sultan Sepuh). Oleh Raffles kebaikan budi H.B.III. ini dibalas dengan mengembalikan tanah Sela, dimana banyak dari nenek-nenek moyang beliaudimakamkan. Jadilah kini Pangeran Natakusuma bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku-Alam, dengan menerima 750 uang Spanyol perbulan, dengan keharusan mengasuh 100 orang tentara dragonders. Ini sama halnya dengan keadaan di Kepangeranan Mangku-Negara di Surakarta.

Tuesday, May 28, 2013

GUSTI HADIPATI



1.      GUSTI KANJENG RATU HAYU, permaisuri Sri Paku Alam II, ibu dari Sri Paku Alam III, eyang dari Sri Paku Alam IV, eyang dari Gusti Timur yang kemudian menjadi permaisuri dari Sri Paku Alam VI  dan ibu dari Sri Paku Alam VII.
2.      GUSTI KANJENG, putri Pangeran Mangkudiningrat  dan cucu dari Sri Sultan HB II, permaisuri dari KPH Nataningprang calon putra mahkota dari Sri Paku Alam II akan tetapi yang wafat mendahului ayahnya, yang dari perkawinannya dengan KPH Nataningprang memperoleh seorang putra yang bernama RT Nataningrat yang kemudian menjadi Sri Paku Alam IV, Gusti kangjeng mana setelah KPH Nataningprang wafat, kemudian menjadi permaisuri dari  Sri Paku Alam III  dan dari perkawinannyaitu memperoleh  seorang putri yang bernama GUSTI TIMUR  dan setelah Sri Paku Alam III mangkat  Gusti Kangjeng itu menjadi permaisuri dari Sri Paku Alam V , dan putrinya dari Sri Paku Alam III yang bernama GUSTI TIMUR kemudian dikawinkan dengan KPH Notokusumo putera mahkota dari Sri Paku Alam V yang akhirnya jumeneng sebagai Sri Paku Alam VI.
3.      GUSTI TIMUR, putri Sri Paku Alam III dari perkawinannya dengan Gusti Kangjeng, yang kemudian dikawinkan dengan Sri Paku Alam VI dan antara lain melahirkan seorang putra yang bernama BRMH Surarjaningrat yang akhirnya jumeneng menjadi Sri Paku Alam VII dalam tahun 1906.
Dengan demikian jelaslah bahwa Sri Paku Alam VII adalah keturunan langsung dari GUSTI KANGJENG RATU HAYU dengan urutan sebagai berikut :
            Gusti Kangjeng Ratu Hayu, peputra Sri Paku Alam III.
            Sri Paku Alam III peputra : GUSTI TIMUR dan GUSTI TIMUR peputra Sri Paku Alam VII
Disamping itu Sri Paku Alam VII juga keturunan langsung dari  GUSTI KANGJENG dengan urutan sebagai berikut :
            GUSTI KANGJENG peputra GUSTI TIMUR, dan GUSTI TIMUR peputra Sri Paku Alam VII
            Dan jelas bahwa Sri Paku Alam VII adalah keturunan langsung dari GUSTI TIMUR, sebab Sri Paku Alam VII adalah putera dari GUSTI TIMUR.
Dari gambaran diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa berkat perjuangan yang gigih baik dari GUSTI KANJENG RATU HAYU, maupun dari GUSTI KANGJENG ataupun dari GUSTI TIMUR, maka pada akhirnya DINASTI PAKUALAMAN tetap bisa mereka kuasai.
Sampai dengan Sri Paku Alam VI pengaruh Kraton Solo masih belum masuk ke dalam PURA PAKUALAMAN.  Akan tetapi setelah Sri Paku Alam VII jumeneng di tahun 1906 dan kemudian dalam tahun 1909 kawin dengan seorang puteri dari Sri Susuhunan Paku Buwono X yang bernama GUSTI RADEN AJENG RETNO PUASA, dan kemudian lebih dikenal dengan nama  GUSTI HADIPATI, maka pengaruh Kraton Solo mulai masuk ke dalam PURA PAKUALAMAN.
Dan yang mengherankan adalah bahwa sejak perkawinan Sri Paku Alam VII dengan seorang puteri dari Sri Susuhunan Paku Buwono X itu, maka kebudayaan Kraton Solo mulai masuk ke dalam PURA PAKUALAMAN, bahkan kemudian kebudayaan Kraton Solo menjadi dominan di PURA PAKUALAMAN.  Jika pada waktu ini orang meninjau Pura Pakualaman maka ia memperoleh kesan seoalah-olah Kadipaten Pakualaman itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan KRATON YOGYAKARTA, melainkan lebih banyak mempunyai hubungan dengan Kraton Solo.  Baik dalam keseniannya, seni karawitan dan seni tarinya maupun dalam cara berpakaian ataupun dari gelar-gelar yang diberikan kepada abdi dalem, semua lebih mirip dengan Kraton Solo daripada Kraton Yogya. Mengenai soal pakaian ini tidak hanya beskapnya akan tetapi juga udeng atau destarnya, warangka duwungnya dan cara mempergunakan AMBEN, semua mirip pada Kebudayaan Kraton Solo.
Terlepas setuju tidaknya terhadap perubahan yang terjadi di Pura Pakualaman, seolah-olah terlepas dari induknya ialah kraton Yogya dan dalam semua hal meniru Kraton Solo, yang jelas adalah bahwa segala sesuatu itu bisa terjadi  karena pengaruh GUSTI HADIPATI.  Dengan demikian kita bisa menarik kesimpulan bahwa GUSTI HADIPATI adalah seorang pribadi yang kuat, sebab baru sejak tahun 1909 GUSTI HADIPATI sudah bisa merubah kebudayaan Kadipaten Pakualaman yang sudah berlaku dan hidup selama kurang lebih satu abad (1813-1909).
Dan memang dalam sejarah ternyata GUSTI HADIPATI adlah seorang pribadi yang kuat yang mempunyai pengaruh positif terhadap puteranya Sri Paku Alam VIII seperti yang akan dijelaskan dibawah ini :
Seperti kita ketahui pada waktu Sri Paku Alam VII mangkat dalam tahun 1937, Sri Paku Alam VIII yang sekarang, yang pada waktu itu masih bernama : KPH Suryodilogo masi berada di Nederland.  Beliau pada waktu itu di utus oleh ayahanda Sri Paku Alam VII untuk menghadiri perkawinan agung antara Puteri Juliana dengan Pangeran Bernard.  Setelah selesai menghadiri perkawinan agung itu, KPH Suryodilogo sebelum pulang ke Indonesia mengadakan perjalanan keliling Eropa.  Tatkala KPH Suryodilogo mengadakan perjalanan keliling itu Sri Paku Alam VII mangkat.
Setelah pemerintah Belanda memperoleh berita tentang mangkatnya Sri Paku Alam VII itu makan segera Perdana Menteri Colijn mengundang KPH Suryodilogo yang masih berada dalam perjalanan keliling Eropa untuk kembali ke DEN HAAG.  Dan setelah KPH Suryodilogo bertemu Perdana Menteri Colijn maka disamping KPH Suryodilogo diberitahu tentang mangkatnya Sri Paku Alam VII, Perdana Menteri Colijn juga menegaskan  kepada beliau bahwa beliaulah yang yang kemudian diangkat oleh Gupermen Belanda untuk menggantikan ayahanda sebagai Sri Paku Alam VIII.  Pada waktu itu KPH Suryodilogo berniat untuk segera pulang ke Indonesia dengan naik kapal terbang, akan tetapi dalam pembicaraan tilpun dari Nederland dengan ibundanya di Yogya, maka GUSTI HADIPATI menasehatinya agar beliau pulang ke Indonesia dengan menggunakan kapal api saja. (Perlu ditambahkan disini sebagai penjelasan bahwa sebelum Perang Dunia II, memang belum ada hubungan udara secara teratur antara Indonesia dan Negeri Belanda seperti sekarang).  Dan perjalanan dari Nederlan ke Indonesia atau sebaliknya dengan kapal terbang masih memakan waktu kurang lebih 12 hari, sebab penerbangan udara pada malam hari pada waktu itu belum lazim dan Negara-negara yang dilewati juga belum semua mempunyai alat-alat yang memadai dilapangan-lapangan terbang yang harus dilewati oleh kapal terbang.
Dengan demikian maka setelah KPH Suryodilogo kembali ke Indonesia, maka kemudian beliau dinobatkan sebagai Sri Paku Alam VIII pada tanggal 13 April 1937.  Pada waktu KPH Suryodilogo dibobatkan sebagai Kepala Kadipaten Pakualaman itu beliau boleh dikatakan belum memiliki pengalaman yang banyak dan luas dalam memimpin pemerintahan.  Untunglah bahwa Sri Paku Alam VIII dalam memimpin Kadipaten Pakualaman itu masih dapat didampingi Ibundanya : GUSTI HADIPATI yang selama kurang lebih 28 tahun mendampingi suaminya Sri Paku Alam VII sebagai Kepala Kadipaten Pakualaman.
Seperti kita ketahui baru saja Sri Paku Alam VIII memegang tampuk pemerintahan di Kadipaten Pakualaman kemudian pecahlah perang dunia II dalam bulan September 1939, dan pada tanggal 10 Mei 1940 Nederland diserbu dan diduduki oleh JERMAN HITLER, sehingga Indonesia putus hubungan dengan Nederland.  Dan pada tanggal 8 Maret 1942 Indonesia diduduki oleh JEPANG.
Pada saat-saat menghadapi pendudukan Jepang dalam tahun 1942 itu, maka GUSTI HADIPATI menasehati puteranya Sri Paku Alam VIII agar untuk selanjutnya dalam menghadapi segala hal, Sri Paku Alam VIII jangan meninggalkan Sri Sultan HB IX yang sudah jumeneng sejak tanggal 18 Maret 1940.  Maka oleh karenanya sejak jaman Jepang itulah hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi erat.
Konperensi Pamong Praja dilangsungkan bersama-sama dibawah pimpinan kedua PEPATIH DALEM dari Kasultanan dan Pakualaman.

Tuesday, August 28, 2012

SEMU , SASMITA DAN PRALAMPITA (Mendidik Tajamnya Rasa dan Budi)


Oleh  :  KRAy.  SM. Anglingkusumo  SPd, M.Eng

Masyarakat  Yogyakarta pada umumnya  tidak  suka   menonjolkan kemahirannya, tindakan  dan  ucapan, selalu menunjukkan  kerendahan hatinya,demikian itu anggapan
Mereka tidak akan mengurangi martabatnya, bahkan tanpa disengaja,terlihat akan budi bahasa yang Luhur dan halus.
Didalam bahasa Jawa disebut  “ Ruruh, raras, angresepake “, inilah ciri khas, lebih lebih bagi orang yang masih mengaku keturunan dari raja raja  berkuasa pada masa tempo dahoeloe.
Didalam dunia pendidikan masa lampau ,sebagai pedoman yang dipakai contoh adalah  karaton, karena apa yang ada disana,dianggap yang paling baik.
Memang sebenarnya  karaton punya falsafah, kesusasteraan,kesenian dan kesusilaan.
Dikala itu belum banyak sekolah, maka cara mendidik dan menyebarkan pengetahuan  melalui  katakata, pitutur, wejangan, saresehan, tembang , ditirukan kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya dan orang lain.
Pada penyampaiannya  sangat sederhana, lugu, kadang tersamar dalam bentuk  “jarwa dhosok”,  “parikan”, ”semu” , “sasmita”  dan “pralampita”.
Seperti telah disebutkan diatas, sifat suka merendahkan diri itu, menyebabkan orang tidak suka banyak bicar, maka  segala sesuatu bersifat  semu, sasmita dan pralampita, baik berujud  bangunan, ukiran, lukisan, sampai  tanamanipun  juga  dipakai  contoh  antara  lain  :
1.   Candrasengkala  memet.
Pintu gerbang ( regol / gapura )  Karaton bagian  selatan, diberi nama  Gadhungmlati  warna hijau, selaras  dengan  arti  gadhung, terdapat arca ( Jawa – pepethan )  naga  dua  berwarna  merah, itu  adalah candrasengkala memet, berbunyi :  “ Dwi naga  rasa  wani, artinya  : Dwi =dua ,  naga= delapan, rasa=enam,  wani= satu ,  jadi  kata itu apabila diwujudkan angka  adalah : 2861, kalau  dibalik  :  1682  itu  tahun  jawa, sebagai  peringatan  berdirinya  bangunan  Karaton  Ngayogyakarta  Hadiningrat, dan kata kata tersebut mempunyai  maksud  atau  makna :  Pintu Gadhungmlati  untuk  masuk. Warna hijau , mempunyai  makna  “hidup” , ukiran  naga – rasa  berani  (  merah )  penuh  napsu /semangat.
2.   Pohon  asem  dan  tanjung.
Di jalan jalan  kota Yogyakarta dahulu  banyak  ditanam  pohon  asem dan tanjung, sebagai  perindang.Pohon itu mempunyai  makna simbolik : Bunga tanjung  baunya harum berbentuk  bintang.  Pohon  asam  banyak  bermanfaat yang  maknanya  :  Orang muda  ( pucuk daun muda  yang disebut “sinom”)  harus  “kesengsem”  (fokus)  untuk  meraih  cita cita  setinggi tingginya. “Sinom”  diibaratkan  anak muda  yang  sudah  akil balik  . ket. Dimasyarakat umum para anak muda  kadang disebut  sebagai  “ sinoman”  yaitu  kumpulan anak2 muda.
3.    Pohon  mempelam, jambu air ( jambu  dersana ) , kepel  dan   kelapa gading.
Halaman  rumah  yang luas  pasti  ditanam  pohon pohon  yang berbuah  dan  bermanfaat  bagi  manusia, disamping mempunyai  maksud yang sesuai dengan
filosofinya.  
Contohnya  :  pohon  mempelam, menggambarkan  seorang perjaka  atau  perawan  yang  sudah  suka  sama suka  ( bhs Jawa : pada geleme ), kadersan  ( jambu  dersana ) rasa  sih, lambangsari.
Kepel :  kempeling karep, kembuling  rasa,  kumpuling  wiji.
Kelapa  gading  :  warna  kuning  kelapa  ibarat  keluhuran, juga  dipakai  untuk  menyebut  payudara , sebagai  sarana  untuk  membesarkan  biji  yang  tumbuh.
Kelapa gading  juga  digunakan  untuk  upacara  siraman  calon  pengantin, mitoni ( siraman  7  bulan kandungan).
Jadi makna  dari  buah2 itu  :  “ Orang  muda  harus  berbudi Luhur, berkedudukan baik,  berkeluarga  dan  melindungi  serta  melestarikan keturunan  agar  dapat  disebut  “ Trahing  Kusumo  rembesing  madu “.




4.   Pohon  Cengkih ( cengkeh )
Pada  jaman  dahulu,  cengkeh  termasuk  tanaman  langka  karena  sulit  perawatannnya, sekalipun  bunga cengkih sangat  dibutuhkan  masyarakat  untuk  bumbu  jamu  tradisional.
Dahulu  hanya  terdapat  di makam  raja2  di  Imogiri. Menurut hemat saya selagi pohon sukar  didapat kala itu, andaikata  ada  dan bunganya  sudah  dipetik , bagaimana dapat  memperoleh  buahnya , padahal  buah  terjadi  dari  bunga.
Buah  cengkeh  disebut “polong”, maka ibarat  orang  akan  mencapai  cita2 yang  luhur  , wibawa, derajad yang tinggi, padahal semua  keutamaan itu  sukar
Sekali  dicapai, harus melalui  ujian  berat dan  rumit, sehingga  besar  kemungkinan tidak  sembarang orang  dapat  mencapainya.
           Ternyata anggapan  itu  benar,  terbukti  ada  kepercayaan barang siapa  yang  
           Mendapatkan  buah  polong  di  makam  raja2  di  Imogiri,  sama  halnya  men
dapatkan  wahyu. Karena itu  bila  berziarah  kemakam  , orang  memerlukan da
tang  kebawah pohon  cengkih  disana  dengan caranya  sendiri2  untuk  mem
peroleh  buah  polong itu.
5.   Kain  Parangkusumo
Parang  =  batu  padas,  batu  karang  yang  terdapat  ditepi  laut,  Kusumo = bunga,  parangkusumo  artinya  bunga  yang  sedang  mengembang,  diibarat
kan  merupakan  keluarga  ningrat.
Pada  jaman  Hamengku Buwono  VIII,  ada  peraturan bahwa  selain  keluarga  grad ( tingkat ) IV  keatas, tidak  diperkenankan  mengenakan  batik  dengan  motif  parang. Sedangkan  Parang  barong  hanya  khusus  untuk  Sri Paduka.
Adakalanya   motif  batik  Parang Kusumo  diselingi  motif  Gurda ( Garuda ) dan
“sawat”  atau  sayap  Garuda, itupun tidak  diperkenankan.
Motif  parang yang  diseling  Gurdo  biasa  dikenaan  oleh  para  Pangeran atau
Putra putri  grad I .


Bahkan  pada  jaman  HB  VII , kain  motif  kawung  bahkan  tidak boleh  dikenakan  untuk masuk  Karaton.
Ada  sementara  orang  yang  berpendapat  ,  bahwa pada  upacara  adat  orang  tidak  berani  memakai  kain  batik motif  parang , karena  dianggap  takut  kuwalat  atau  dapat  memperoleh  petaka/musibah  terutama  motif  Parang parang  gendreh, parang  centhung,  parang  klithik, parang  curiga,  parang  peni, dan  masih  banyak  lagi,  maka  untuk  saya  hal  tersebut  tidak  menjadi  sebab.
6.   Kain  batik  motif  nitik
Batik  nitik  dibuat  memakai  canthing  yang  sangat  lembut,  dengan  motif  bunga  dan  halus  pembuatannya. Terdapat  juga  pada  kain  “cindai “ atau
Cinde  yang  banyak  sekali  digunakan  pada  berbagai  upacara  tradisi  Jawa. Menurut  namanya,  bias  diartikan  sebagai  laku  untuk  merintis  kesuatu  arah  tertentu,  kemudian  ditambah  dengan  pola  yang  lain,  umpamanya  nitik  kembang  tanjung,  kembang kentang,  itulah  yang  memperkuat  “lelaku”  guna  mencapai  tujuan  yang  utama.  Kadangkala  diartikan  bahwa  sipemakai  sedang  dalam  laku prihatin  dalam  rangka  memohon  sesuatu  atau  mempunyai  hajat  / cita2 /keinginan  tertentu.
7.   Motif  Udan  Riris
Udan =  hijau,  riris = rintik2,Jadi  motif  batik  Udan  riris  artinya  motif  bagaikan
Hujan  rintik rintik, yang  sifatnya  maupun kecil  kecil  tetapi  tidak  putus  putus.
Hujan  rintik rintik  ini  adalah  gambaran  suatu  keindahan  yang  sangat  menakjubkan,  biasnya  sinar  matahari  yang menembus  hujan  yang  rintik  rintik  pada  pandangan  kita  ,  akan  menampilkan  sebah  pelangi  yang ber warna warni  sangat  mempesona,  maka  siapa  saja  yang  mengenakan  kain  batik  motif  udan  riris  konon  akan  menemukan  keindahan  arti  motif tersebut.
Motif  batik  ini  biasa  dikenaan  oleh  para  putri  bangsawan .


8.   Motif  batik  pisang  bali
Pisang  adalah  nama  buah,  Bali  adalah  nama  pulau.  Motif  batik  Pisang  Bali  menggambarkan  lukisan  ukiran  sesisir  pisang  dari  Bali.
9.   Semen  Romo
Semen  artinya  “semi”  dari  kata  ber”semi”, /tumbuh, dan  maksudnya  adalah  persemaian,  Romo  berarti  ayah  dalam  bahasa  Jawa  halus  selain  itu
Romo  ( Prabu  Romo/ Rama)  adalah  seorang  putra  kerajaan  Ayodyapala
dan  titisan  dari  Dewa  Wishnu  yang  melindungi   manusia  untuk  kesejahteraan, ketenteraman  lahir  batin,  pembasmi  perbuatan  durhaka dan angkara  murka.
Motif  ini  sebagai  lambang  harapan  bagi  sipemakai, agar  dapat  hikmah  dari para  Dewa  Wishnu  yang  konon  selalu  melindungi,  mengayomi  keluarga  dan  siapapun  yang  bersifat  keutamaan, menghindari  angkara  murka,  perbuatan  jahat.
Pengantin  yang  memakai  batik  motif  ini  harapannya  adalah  tumbuh
sebagai  pengayom,  dan  pembasmi  kejahatan,  terutama  untuk  diri  dan  keluarganya  yang  dibinanya. Kecuali  itu  diharapkan  hidup  berbahagia,
saling  mencintai,  saling asah asih  asuh, bagaikan  Dewi  Sinta  dan  Rama.
10.Kain  batik  motif  Truntum
Truntum  artinya  mengumpulkan  ( biasanya  harta ),  Motif  ini  sangat  klasik,dapat  dilihat  dari  bentuk  bunga tanjung  yang  seperti  bintang  bertaburan,
Kain  motif  ini  di  Yogya  dikenakan  oleh  calon  pengantin  putri,  di  Solo
digunakan  untuk  orang  tua  dan  besannya  saja, tetapi  di Yogya  digunakan  untuk  calon pengantin putri  dalam  upacara  tantingan  pada  malam  midodareni.
Dalam  upacara  “panggih” / temu  pengantin,  para  orang tua  mengenakan  kain  motif  truntum  ini,  yang maknanya  mengumpulkan  “balung”  apisah  ( seolah  antara  dua  keluarga  yang  terpisah  disatukan  kembali), selain  itu diharapkan  agar  selalu  “temruntum”, atut  rukun,  guyub,  dan  pengantin memberikan  keturunan  yang  baik,  rejekinya  juga  mengalir  tumuruntum.
Intinya  adalah  bahwa  dalam  acara  tradisional  Jawa  ,  segala  busana,
makanan  dan  berbagai  “uba rampe”  mengandung  makna  filosofi  yang  dalam.
11.Motif  batik  Sidoasih,  sidoluhur,  sidomukti,  
Adalah  nama nama  motif  kain  batik  yang  biasanya  dikenakan  oleh
Pengantin  yang  masing2  mempunyai  arti  mengandung  harapan  saling asih asuh,  Luhur  budi  dan  derajatnya,  dst.
12.Batik  motif  cakar  ayam 
Yaitu  kain  batik  yang  dikenakan  para  orang tua  pengantin  mulai  dari  dan  s
Upacara  pasang  “bleketepe”  atau  pemasangan anyaman  janur  diatas pintu  dedaunan yang  bermakna baik sekaligus  sebagai simbolik mulainya  rangkaian  upacara  Pernikahan , sejak itu  pula  selendang  “sindur”  dipakai  oleh  yang  empunya  hajat  dilingkarkan  pada  pinggangnya.
     13.Sindur
Orang tua biasanya  menggunakan  “sindur”  sebagai  symbol  yang  punya  hajat
Berwarna  putih  dan  merah  bagian  tengahnya  merah  yang  melambangkan 
           “Purwaning  dumadi”  yaitu  asal mula  kehidupan ,  bahwa manusia  dapat  terja
di  karena  bersatunya  sperma (putih)  dan  indung telur (merah) , terkadang  ju
ga  dianggap  perlambang  suci  dan  berani.
14.Kain  motief  grompol
Setelah  calon pengantin  putri  selesai  siraman,  pada  gaya  Yogyakarta  mema
kai  “singep”  (  selimut ) kain  bermotif  “grompol”.
Grompol  adalah  kiasan  dari  “krompol”,”dhompol”, yang mengandung  arti  ba
nyak, bersatu, berkumpul, menyatu, guyub,  dengan  harapan  sipemakai  rejeki
nya  terkumpul, bergerombol,guyub  rukun.



Tanaman tanaman  yang  selalu  diperlukan  untuk  upacara  adat  :

Dalam  menunjang  lestarinya  upacara  adat,  baik  untuk  upacara  daur  hidup  ataupun  untuk  upacara  “ merti  bumi”, “sedekah  bumi “, ruwatan, bersih  desa dan
lain lainnya, sesuai  kearifan  local  masing masing daerah,  maka  di  daerah  Jawa
pada  umumnya  di perlukan  :
·         Pohon  pisang  raja, pisang  kapok  kuning,  pisang  pulut,  pisang emas, pisang  “morosebo”
·         Pohon  kelapa  ,  kelapa  gading, pohon pinang ( jambe )
·         Pohon  tebu  wulung  ( batang  tebu  berwarna  hitam  ),pohon  sirih,
·         Pohon  beringin, pohon  jeruk  bali, pohon  kluwih, nanas, jeruk nipis,jeruk purut, pohon  gaharu, pohon  cendana, akar  wangi, pohon  waru
·         Tanaman  perdu,  pandan  wangi, puring,  patramenggala (bunga merak),
Alang alang, padi, buah dan bungakapas ,delima putih, dadap  srep.
·         Tanaman  bunga  :  melati, kenanga, kantil, gambir, menur, mawar merah dan putih, telasih, kenikir, kamboja, dll.

Itulah  antara  lain  tanaman  yang perlu  dilestarikan  yang  merupakan  symbol sim
bol  yang  digunakan  dalam  berbagai  upacara  tradisi   Jawa.